Thursday, June 11, 2020


KOMUNIKASI MASSA



            Disusun Oleh :
        Qowi Hanif Witanto
         NIM:B01219046


            Dosen Pengampu :
        Abu Amar Bustomi, M. Si 





                       Prodi Komunikasi Penyiaran Islam

                Fakultas Dakwah Dan Komunikasi

             Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya

                2019








ABSTRAK :

Manusia pada hakekatnya adalah mahkluk sosial, yang dalam kehidupan sehari- hari tidak bisa lepas dari kegiatan interaksi dan komunikasi.Komunikasi merupakan bagian integral kehidupan manusia, apapun statusnya di masyarakat. Sebagai mahkluk sosial, kegiatan sehari- hari selalu berhubungan dengan orang lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Komunikasi adalah hubungan antar dan antara manusia baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak disadari komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri, paling tidak sejak ia dilahirkan sudah berhubungan dengan lingkungannya. Gerak dan tangis yang pertama pada saat ia dilahirkan adalah tanda komunikasi . Komunikasi merupakan aktivitas yang paling esensial dalam kehidupan manusia.
Dan dari semua jenis komunikasi ,ada yang namanya komunikasi massa, Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas, dan memiliki jumlah komunikator yang paling banyak serta derajat kedekatan fisik yang paling rendah, dimakalah ini akan dibahas mulai dari definisi hingga karakteristik dari komunikasi massa tersebut.

Kata Kunci: Komunikasi, Sosial, Sosiologi

 Komunikasi massa adalah proses di mana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).[1] Organisasi-organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat.
Dalam komunikasi massa, media massa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi, memproduksi pesan, dan menyampaikannya pada khalayak.
Komunikasi massa adalah proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik). Organisasi - organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat.
Komunikasi massa (mass communication) juga bisa disebut sebagai komunikasi media massa (mass media communication). Maka dari itu, komunikasi massa jelas berarti sebuah cara berkomunikasi atau penyampaian informasi yang dilakukan melalui media massa (communicating with media).
Defisini komunikasi massa yang paling umum adalah cara penyampaian pesan yang sama, kepada sejumlah besar orang, dan dalam waktu yang serempak melalui media massa. Komunikasi massa dapat dilakukan melalui keseluruhan media massa yang ada, yaitu media cetak, media elektronik, serta media online. Tidak ada batasan media dalam penggunaan komunikasi massa ini.[2]

a.      Pengertian Komunikasi massa menurut para ahli

I.                   Menurut Bittner
Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner yakni: komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people). Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu harus menggunakan media massa. Jadi sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri oleh ribuan, bahkan puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media massa, maka itu bukan komunikasi massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran, dan televisi- keduanya dikenal sebagai media elektronik; surat kabar dan majalah- keduanya disebut dengan media cetak; serta media film. Film sebagai media komunikasi massa adalah film bioskop.
II.                Menurut Meletzke
Definisi komunikasi massa dari Meletzke berikut ini memperlihatkan massa yang satu arah dan tidak langsung sebagai akibat dari penggunaan media massa, juga sifat pesannya yang terbuka untuk semua orang. Dalam definisi Meletzke, komunikasi massa diartikan sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar Istilah tersebar menunjukkan bahwa komunikan sebagai pihak penerima pesan tidak berada di suatu  tempat, tetapi tersebar di berbagai tempat.
III.             Menurut Freidson
Definisi komunikasi massa menurut Freidson dibedakan dari jenis komunikasi lainnya dengan suatu kenyataan bahwa komunikasi massa dialamatkan kepada sejumlah populasi dari berbagai kelompok, dan bukan hanya satu atau beberapa individu atau sebagian khusus populasi. Komunikasi massa juga mempunyai anggapan tersirat akan adanya alat-alat khusus untuk menyampaikan komuniaksi agar komunikasi itu dapat mencapai pada saat yang sama semua orang yang mewakili berbagai lapisan masyarakat.[3]






[1] Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication. Seventh edition
[2] AnisaRochmania,”Komunikasi massa” di akses dari : https://www.slideshare.net/AnisaRochmiana/makalah-komunikasi-massa pada tanggal 14 September 2019

[3] Alainoengvoenna,”Komunikasi massa menurut para ahli” di akses dari : https://alainoengvoenna.wordpress.com/2011/02/17/5-definisi-komunikasi-massa-menurut-para-ahli/ pada tanggal 14 September 2019


Monday, September 30, 2019



Bahagia itu Sederhana

Tepat pada hari Sabtu, 23 November 2019 mahasiswa KPI A2 semester I mengikuti seminar PTSB (Pendalaman Terapi Sholat Bahagia) yang diadakan oleh seorang dosen studi al-Qur’an Prof. Ali Aziz M.Ag. Masing-masing anak diberi tugas untuk mencermati dan mencatat apa yang disampaikan nya.


HIDUP SEHAT DAN SELALU BAHAGIA

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

60 Menit Terapi Sholat Bahagia adalah salah satu dari sekian banyaknya buku yang ditulis oleh  Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag yang berisi Kebahagiaan sederhana melalui sholat telah beredar dan sudah banyak dibaca oleh publik. Bukan hanya sekedar membaca bukunya saja, tetapi beliau juga mengadakan PTSB (Pendalaman Terapi Sholat Bahagia) untuk memahami dan menghayati secara maksimal dengan pencerahan dan bimbingan praktek dari beliau sendiri yang nantinya dijadikan pegangan. Sebelumnya saya akan memperkenalkan Biografi beliau.

           Nama beliau Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag Dilahirkan di Lamongan, 09-06-1957; beristri, 7 anak, 3 cucu;  alumni Ponpes Ihyaul Ulum Gresik (1975); Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya (sejak 2004); Dosen Teladan Nasional (2004 dan 2007); Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (2000-2004); Pengurus Pembaca dan Penghafal Al Qur’an Jatim (1994); Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI 2009-2013); Unsur Ketua Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur; Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim (2011-sekarang); Konsultan Pendidikan Yayasan Khadijah (2011-sekarang); Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris; Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an;  Asesor Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi;  Saksi Ahli Mahkamah Konstitusi tentang UU Penodaan Agama;  Penasehat Forum Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama; Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Al Khoziny Sidoarjo (1990-2009); Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Kyai Ibrahim Surabaya;  Penasehat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (2002); Pengisi Mimbar Islam di TVRI Jatim; Kajian Terapi Shalat Bahagia di RRI Jakarta pro.1 dan 4 (91.2 FM dan 92.8 FM) dan Radio El Victor Surabaya 93.3 FM. Imam shalat taraweh/penceramah Islam di Hongkong, Macau, Senzhen, Taiwan (2000-sekarang), Malaysia (2004), Jepang (2006 dan 2013), Iran (2008, 2009,2010), Mauritius-Afrika (2000), Inggris (2005), Belanda (2007), Bangladesh (2013, 2014, 2015) dan Nepal (2015). Buku-buku yang ditulis: 60 Menit Terapi Shalat Bahagia (UIN Sunan Ampel Press 2012) sekaligus sebagai founder dan trainer Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB), Doa-doa Keluarga Bahagia (Surabaya, Kun Yaquta Foundation 2014), Bersiul di Tengah Badai (UIN Sunan Ampel Press 2015), Teknik Khutbah Jum’at Komunikatif (UIN Sunan Ampel Press 2014), Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ) (Imtiyaz Surabaya 2011), Ilmu Dakwah (Prenada Jakarta 2008), Dinamika Kepemimpinan Tokoh Agama di Indonesia (Harakat Media Jogjakarta 2008), Hijrah (Harakat Media Jogjakarta 2008), Solusi Ibadah di Hongkong (Duta Masyarakat Surabaya 2008), Solusi Ibadah di Taiwan (PCNU Taipei 2010), (2014); Dalam proses cetak buku Terapi Shalat Sukses Studi. Pengisi kajian tafsir Al Qur’an di Majalah Nurul Hayat dan Majalah Sabilillah, konsultasi keluarga bahagia di Majalah Nurul Falah; rubrik agama di Harian Duta Masyarakat (2010), Rubrik Dialog mualaf di Tabloid Nurani (1995). (Sumber : http://www.terapishalatbahagia.net/ )

                 Tanggal 23 November 2019  kemarin kegiatan PTSB tersebut diikuti oleh  sebagian Mahasiswa/mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya diantaranya Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Ilmu Komunikasi, Manajemen Dakwah, Bimbingan Konseling Islam, Pengembangan Masyarakat Islam.  Sebelumnya peserta sudah harus membaca bukunya terlebih dahulu untuk bisa mengikuti PTSB tersebut. Kata beliau jika belum membaca buku 60 Menit Terapi Sholat Bahagia maka akan membutuhkan waktu yang lama sekitar 2 hari. Orang umum 2 hari, kalau anak cerdas hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja, tuturnya. Sebelum kegiatan PTSB kita juga sudah di intruksikan untuk menulis beberapa syarat mengikuti Pendalaman Terapi Sholat Bahagia, diantaranya ;
1.      Menulis 10 orang yang paling berjasa dalam hidup kita.
2.      Menulis 5 orang yang menjengkelkan/ menyakiti kita
3.      Menulis 10 dosa yang pernah kita lakukan
4.      Menulis 30 nikmat terbesar yang kita rasakan (sejak kecil hingga sekarang)
5.      Menulis 10 masalah yang paling mengganggu/ menyedihkan dalam perjalanan hidup kita ( ada yang bersifat rahasia dan ada yang tidak)

         Tulisan itu harus dibawah dan disimpan. Kata beliau cukup kita dan Allah saja yang tau. Dengan bantuang Daftar masalah dan harapan yang telah disiapkan itu , kita bisa sujud dan rukuk lebih lama dengan penuh penghayatan. Untuk mengajukan permohonan judul skripsi kepada dosen saja kita menyiapkan kalimat yang sebaik mungkin. Mengapa untuk berdoa kepada Allah, kita tidak menulis doa dengan pilihan kata dan kalimat yang terbaik sebelum shalat?
Sholat adalah dzikir, dan dengan berdzikir kepada Allah SWT hati kita menjadi tenang. Shalat adalah interaksi seorang hamba dengan Rabb-nya. Seorang hambar berdiri dihadapan Rabb-nya dengan ketundukan, perendahan diri, bertasbih dengan memuji-Nya, membaca firman-Nya, mengangungkan Allah baik dengan perkataan dan perbuatan, memuji Allah SWT dengan pujian yang memang layak ditunjukkan untuk diri-Nya, kita meminta kepada Allah berupa kebutuhan dunia dan akhirat. Sholatadalah  cara khusus untuk mengatasi problem, selain menjadi kewajiban bagi umat islam yang harus dikerjakan setiap hari banyak sekali manfaat dari sholat, oleh karena itu semua bisa diatasi.


حي على الصلاة # حي على الفلاح…
“Mari tunaikan sholat… Mari bahagia..”


            Tidak ada agama yang menyuruh kita untuk The Best, kecuali Islam. Lafadz diatas sangat jelas bahwa jika ingin hidup bahagia maka tunaikanlah sholat. Allah menginginkan setiap hamba itu mudah dalam kehidupan nya dan tidak berkehendak setiap hamba mengalami kesulitan dalam kehidupan nya. Jika kita mengalami suatu kesulitan atau masalah yang tak pernah tuntas, yang salah bukan Allah, yang salah kita karena kita tidak pernah mau keluar dari kesulitan tersebut atau kita ingin keluar namun tidak sesuai dengan cara yang Allah berikan. Ketika seorang hamba merasa “aduuh saya punya masalah, saya sakit….” dan sebagainya. Ingatlah semua itu akan mudah dilalui jika kita telah mampu menunaikan apa yang Allah perintahkan. Jangan bermimpi hidup tanpa cobaan, sebab kita berada di dunia, bukan di surga. Cobaan itu banyak macam nya ada hal nya yang berbentuk psikis, seperti perasaan gelisah, takut, gundah atau lain nya. Ada juga yang berbentuk fisik, seperti sakit, kekurangan biaya hidup, dan lain lain.

            Lafadz diatas adalah potongan dari lafadz yang dilantunkan dalam adzan. Adzan itu sendiri suatu panggilan bagi umat Islam untuk melakukan salah satu perintah Allah yaitu sholat. Perintah sholat dapat dikatakan suatu perintah Allah yang sangat sakral, dimana pada umumnya semua perintah Allah penyampain nya melalui malaikat Jibril. Sedangkan perintah sholat  Allah memerintahkan langsung Nabi Muhammad untuk menjemput ke langit atau sidrotul muntaha. Sama halnya seperti ketika mengirimkan pesan melalui handphone, pesan akan terkirim ke handphone orang lain dengan alur keatas bukan kebawah. Dengan sholat umat islam pasti..pasti..dan pasti bahagia serta sholat dapat mengangkat derajat seseorang akan lebih tinggi disisi Nya, karena ketika mati bukan harta yang pertama kali dihisab melainkan sholat.

            Manusia pasti memiliki rencana tersendiri, namun sebagus-bagus nya kita merencanakan suatu hal masih lebih bagus rencana Allah. Kita menginginkan sehat sedangkan Allah menginginkan kita sakit, kita menilai seseorang itu baik sedangkan penilaian Allah ia jelek, banyak hal yang kita inginkan atau kita sukai namun keinginan tersebut belum tentu sama dengan keinginan Allah. Hal ini telah dijelaskan dalam salah satu firman Allah yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi mu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. al-Baqarah:216). Seperti halnya dengan seorang gadis yang ingin selamat dalam perjalanan nya, namun Allah menginginkan ia tidak selamat dalam artian ia mengalami kecelakaan. Akan tetapi dengan kecelakaan tersebut ia menerima suatu kenikmatan dari Allah yaitu bertemu dengan seorang pria yang menjadi jodohnya. Oleh karena itu jangan pernah takut untuk menghadapi masalah hidup, karena setiap masalah pasti ada hikmahnya tersendiri. Itulah salah satu contoh dari scenario Allah kepada hamba Nya.

            “Barang siapa yang tidak suka dengan kehendak ku maka carilah Tuhan selain aku dan barang siapa yang mengeluh enak atau tidak enaknya dengan kehendak ku maka janganlah memanggilku lagi”. Maksud dari kalimat tersebut ialah mengajarkan kita untuk menjadi seorang hamba yang menerima lapang dada akan kehendak Allah serta mengajarkan kita untuk tetap kuat dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup tanpa adanya keluhan. Pada hakekat nya Allah sendiri tidak suka dengan seorang hamba yang terus menerus mengeluh dari apa yang ia alami. Kata kasar nya masalah itu dihadapi bukan dikeluhin. Seorang guru favorit saya Prof. Ali Aziz memberi suatu prinsip Berani hidup berani menghadapi masalah. Tidak berani, mati ae, singkat, padat, dan jelas. Salah satu syarat terkabulnya do’a ialah stop complanning. Sesungguhnya tidak ada do’a yang tidak dikabulkan. Hanya saja Allah masih melihat proses mu, memilih waktu yang tepat, serta melihat kesiapan mu dalam menerima nya. Sama halnya seperti seorang anak yang berumur tiga tahun dimana anak itu meminta ayahnya untuk membelikan motor besar. Namun, apa kata ayah ketika itu “yah…nanti kalau kamu sudah besar”.

            Masalah hidup itu realita nya berat, akan tetapi jika kita memiliki mindset bahwa kita yakin bisa menyelesaikan nya dengan mudah insyaAllah masalah tersebut akan sangat mudah dilalui. Berbeda dengan seseorang yang memiliki mindset bahwa masalah ku sulit, maka masalah tersebut akan sulit ia lalui. Pemikiran manusia sama hal nya seperti perkataan yang tidak diucapkan dan perkataan itu sama halnya dengan do’a. Oleh karena itu ubahlah mindset mu yang dulunya negative menjadi positif. 

            Penjelasan diatas menerangkan, agar kita selalu mengingat Allah dimana dan kapanpun. Artinya dengan mengingat Allah kita akan mudah melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kita dan menjauhi larangannya. Juga menerangkan bagaimana menghadapi suatu masalah yang benar. Hal ini dapat disimpulkan dalam gerakan sholat lima waktu. Sholat adalah salah satu cara yang ampuh dalam menghadapi hidup. Jika sholat kita sudah baik maka segala yang ada di diri kita akan baik pula. Maka dengan sholat kita dapat memiliki keuntungan untuk lebih dekat dengan Allah dan mengingat Allah.   Gerakan dalam sholat memiliki arti dan fungsi tersendiri. Menurut ilmu kedokteran gerakan sholat sangat membantu kinerja anggota tubuh bagian dalam, salah satunya gerakan sujud melancarkan peredaran darah jantung. Sedangkan menurut ajaran agama Islam sholat memiliki fungsi tertinggi dalam kehidupan. Contohnya, dengan melakukan sholat kita diberi ketenangan, ketentraman, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan, juga dapat mendekatkan kita dengan Allah.

            Berdo’alah di dalam atau di luar sholat. Namun yang sangat dianjurkan berdo’alah ketika kamu melakukan atau melaksanakan sholat, seperti dalam gerakan rukuk dan sujud. Ada yang mengatakan paling dekat nya hamba dengan Allah ketika ia sujud maka minta lah apa yang kamu inginkan atau butuhkan. Kita tidak akan bisa mengetahui kapan terkabulnya do’a, karena terkabulnya do’a ialah salah satu scenario Allah yang dirahasiakan pada umatnya.

            Gerakan PTSB ini dapat memberikan bimbingan serta praktek sholat agar kita dapat lebih memahami, mengingat lebih kuat, memantapkan keyakinan akan keagungan Allah, lebih percaya diri, dan selalu optimis dalam menyelesaikan semua masalah hidup menuju hidup yang berkah dan bahagia. Wajah penuh bahagia adalah salah satu cermin syukur kepada Allah. Gerakan PTSB juga mengajarkan kita bagaimana memahami fungsi dari setiap gerakan yang ada dalam sholat dan apa yang harus kita lakukan dalam setiap gerakan sholat tersebut, antara lain:
1.  Takbiratul Ikhram (berdiri) yang memiliki kata kunci SUBHAN (Syukur, Bimbingan, Ketahanan iman). Takbiratul Ikhram menunjukan dari awal mula aktifitas kita diwaktu pagi hari.
2.  Rukuk yang memiliki kata kunci TURUT (Tunduk dan Menurut). Rukuk menunjukan agar kita selalu menjadi seorang hamba yang ta’at serta tawadhuk. Segala sesuatu hanyalah milik dan dari Allah maka simpan  baik-baik sombong mu.
3.  I’tidal (berdiri setelah rukuk) yang memiliki kata kunci HADIR (Hak pujian dan Takdir). I’tidal mengartikan bahwa yang mempunyai hak atas pujian hanyala Allah yang maha Agung dan yang menetapkan takdir setiap makhluk hanyalah Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui takdirnya kecuali Allah. Takdir adalah rahasia Allah dari pengetahuan semua makhluknya.
4. Sujud yang memiliki kata kunci MASJID (Maaf, Sinar Jiwa dan Raga). Sujud ialah salah satu gerakan sholat yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada Allah, karena pada saat sujud kita sedang berkomunkasi langsung dengan Allah. Sujud merupakan bentuk rasa maaf atau memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat. Kita akan menyadari dengan sendirinya.
5. Tasyahud awal (duduk diantara dua sujud) yang memiliki kata kunci AKSI (Ampunan, Kasih sayang, Sejahtera dan memperkuat Iman). Do’a dalam duduk diantara dua sujud sangat mencakup atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.
6. Tasyahud akhir (duduk diakhir sholat) yang memiliki kata kunci SOSIAL (Sholawat, Persaksian dan Tawakkal). Tasyahud akhir menunjukan akan kesaksian kita atas utusan Allah yang mulia yakni nabi Muhammad saw. serta rasa pasrah kita akan semua do’a dan usaha yang telah kita lakukan selama ini.

               Gerakan PTSB menyadarkan saya akan pentingnya sholat dalam kehidupan sehari-sehari dan membuat saya lebih memahami makna bacaan yang ada dalam sholat. Sebelum mengikuti PTSB saya memiliki suatu masalah yang dari dulu belum dapat saya tangani sendiri, antara lain: saya belum bisa mengatur atau memenage waktu yang baik, saya masih ragu dengan apa yang saya lakukan dan sering merasa gundah seketika. Hari-hari saya sering dilewati dengan perasaan yang sangat membosankan. Namun setelah saya mengkuti gerakan PTSB semua berubah setelah saya menrapkan nya dalam sholat. Awalnya saya merasa belum terbiasa dengan renungan dalam sholat yang selalu merenungkan semua permasalahan hidup dan berdoa. Saya lebih merasa nyaman dengan hari-hari saya.

             Dapat disimpulkan jika ingin hidup bahagia jangan pernah menyepelekan waktu sholat. Jika telah mendengar panggilan adzan maka segeralah untuk bersiap dan melaksanakannya.  Semua tingkah laku atau prilaku kita, baik buruknya kita dapat dilihat dari sholat nya. Ketika kita ingin mengubah keburukan yang ada dalam diri maka yang terlebih dahulu yang diubah adalah sholat nya. Sholat merupakan kunci dari segala hal. Mulai dari kesuksesan kita di dunia hingga di akhirat nanti. Adapun kehkusyu’an kita dalam sholat dapat ditemui saat kita benar-benar faham dengan bacaan yang terkandung dalam sholat. Segala sesuatu itu ada ilmu nya, melakukan suatu hal tanpa didasari dengan ilmu akan menjadi sia-sia. Sama halnya dengan sholat jika kita melakukan nya tanpa mengetahui serta memahami nya maka akan sia-sia.
          



Qowi Hanif Witanto
Surabaya, 30 November 2019
             
























       
 PENGAJARAN ALQURAN PADA MASA NABI



            Disusun Oleh :
        Qowi Hanif Witanto
         NIM:B01219046


            Dosen Pengampu :
         Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag


         Asisten dosen :
         Ati` Nursyafaah M.KOM




                        Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

                Fakultas Dakwah Dan Komunikasi

             Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya

                2019



 i  



























KATA PENGANTAR

Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabat beliau.

Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Qur’an. Seperti diketahui Bersama, al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam tidak pernah habis dibicarakan dari berbagai segi. Karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang wahyu yang turun pertama dan terakhir beserta tempatnya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag selaku dosen mata kuliah Studi al-Qur’an, yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih juga saya ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu selama proses pembuatan makalah ini.

Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.



Surabaya ,31 Agustus 2019



                                Qowi Hanif Witanto

             






DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PEMBAHASAN

A.      Pengajaran Alquran Pada Masa Nabi SAW

B.       Penulisan Alquran Pada Masa Nabi SAW

C.       Cara-Cara Penulisan Alquran

BAB II PENUTUP

A.    Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA



  














             


BAB I
PEMBAHASAN



A. PENGAJARAN AL-QURAN PADA MASA NABI SAW

              Hingga Nabi SAW wafat, bacaan al-Quran senantiasa mengema. Tidak sedikit sahabat yang telah hafal al-Quran sekaligus memahami kandungannya. Hal ini tidak terlepas dari pola pengajaran al-Quran yang dilakukan oleh Nabi SAW, sekalipun ia ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Nabi SAW juga tidak pernah belajar membaca, apalagi mengajarkan bacaan apapun sebelumnya. Pola pengajara Rasulullah SAW tersebut tidak lain mengikuti pola pengajaran alquran oleh Jibril AS kepada Nabi SAW.             Saat menerima wahyu pertama di gua Hira’, Nabi SAW secara tidak langsung telah diajari oleh Jibril Alaihi
1
Salam bagaimana cara mengajarkan al-Quran. Hanya satu cara, yaitu iqra’ (membaca penuh makna). Maksudnya, al-Quran tidak sekedar dibaca dengan lisan, tetapi juga dipahami dengan pikiran. Dengan cara yang dilakukan Jibril Alahi Salam, Nabi SAW merasa senang mengikutinya, walaupun penerimaan wahyu yang diturunkan Allah sangat melelahkan fisik Nabi SAW dalam mengajarkan al-Quran kepada keluarga dan para sahabat terdekatnya. Begitu senangnya dalam menerima pengajaran Jibril Alaihi Salam, sampai Nabi SAW membacanya dengan tergesa-gesa.

              Allah Subhanallah Wata’ala  menegur Nabi SAW dengan menurun-kan surat alqiyamah [75] ayat 16-19 :

الَ ت احُ رِّكۡ بِّهۦِّ لِّ اسان ااك لِّتاعۡ اج ال بِّهۦِّٓ  ٦١ إنَِّّ اعلايۡناا   اجمۡ اعهۥُ اوقرُۡ اءاناهۥُ  ٦١ فاإذِّاا قا ارأۡنَٰاهُ فاٱتبَِّّعۡ قرُۡ اءا انهۥُ  ٦١ ثمَُّ إنَِّّ اعلايۡناا
اب اياناهۥُ  ٦١ 

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan
Kamilah penjelasannya.  

Dalam ayat diatas, Nabi SAW dilarang Allah SWT menirukan bacaan Jibril AS kalimat demi kalimat sebelum Jibril AS selesai membacakannya, Nabi SAW dapat menghafal dan dapat memahami betul ayat yang diturunkan itu. Berdasar ayat diatas, Ibnu Katsir (1997 : IV: 472) menjelaskan tiga cara pengajaran alQuran yang diterima Nabi SAW, yaitu : 

a)     Perhimpunan al-Quran di benak Nabi SAW, secara otomatis, Nabi SAW langsung hafal.
b)    Nabi SAW dituntun Jibril AS membaca al-Quran kalimat demi kalimat. Nabi SAW sebenarnya ingin segera membaca wahyu yang sudah dihafalnya, namun Allah SWT menghendaki agar Nabi SAW mengikuti bacaan Jibril AS dahulu.
c)     Nabi SAW diberitahu penjelasan mengenai kandungan wahyu alQuran yang baru diterimanya. Dalam setahun sekali, terkadang dua kali, Jibril AS menyimak bacaan Nabi SAW secara 

        Metode pengajaran yang diterapkan Jibril AS itulah yang diikuti Nabi SAW saat mengajarkan al-Quran kepada para sahabat. Karena umumnya para sahabat memilki kecerdasan dan terbiasa menghafal, maka mereka tidak sulit untuk menghafalkannya. Setelah, mereka membacanya di hadapan Nabi SAW, sementara Nabi SAW menyimaknya.
 
          Hal ini karena Nabi pun diutus Allah di kalangan orang-orang yang ummi pula.

Allah berfirman :

هُ او ٱلَّذِّي اب اع اث فيِّ ٱلۡۡ مُِّ ي ِّ ان ارسُوالَ  مِّنۡهُمۡ ايتۡلوُاْ اعلايۡهِّمۡ اءا ايَٰتِّۦِّه اوي ازُ كِّيهِّمۡ اوي اعُلِّ مُهُمُ ٱلۡكِّتَٰا اب اوٱلۡحِّكۡ امةا اوإنِّ اكانوُاْ مِّن قابۡلُ لافِّي اض الَٰلٖ مُّبيِّنٖ  ٢
      
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang
nyata,”   

           Biasanya orang-orang yang ummi itu mengandalkan kekuatan hafalan dan ingatanya. Pada masa diturunkan al-Quran bangsa Arab berada dalam martabat yang begitu tinggi dan sempurna daya ingatnya. Mereka sangat kuat dalam hafalannya serta daya pikirannya begitu terbuka. Mereka bahkan banyak yang hafal beratus-ratus ribu syair dan mengetahui silsilah serta nasab (keturunannya). Mereka dapat mengungkapkannya di luar kepala dan mengetahui sejarahnya. Jarang sekali di antara mereka yang tak bisa mengungkapkan silsilah dan nasab tersebut, tidak hafal “Almuallaqatul Asyar” yang begitu banyak syairnya lagi pula sulit dalam menghafalnya. 

            Ketika al-Quran datang kepada mereka dengan jelas, tegas ketentunya dan keluhurannya kandungan isinya, mereka merasa kagum. Akal pikiran mereka terkuasai oleh al-Quran, sehingga seluruh perhatiannya dicurahkan kepada al-Quran. Mereka menghafalnya ayat demi ayat dan surat demi surat. Ketika berada di Gua Hira itu Nabi bertakhannus, yang kemudian Allah mengutus Jibril AS memeluk Nabi Muhammad dan membisikan agar ia membaca kalimat iqra’. Namun Nabi menjawab dengan jawaban saya tidak dapat membaca. Hal demikian diulanginya sampai tiga kali dengan jawaban yang sama dari Nabi. Malaikat Jibril kemudian menuntun Nabi untuk membaca lima ayat pertama dari surat al-Alaq.
  
             Sebagai           Rasul, beliau ditugaskan menyampaikan            wahyu sekaligus menjelaskan maksud dan kandungan            isi        al-Quran          kepada umatnya dalam rangka membumikan makna makna al-Quran. Sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat dalam al-Quran, antara lain :

A). Surah al-Maidah ayat  67 :
 ۞ ايَٰٓأايُّ اها ٱلرَّسُولُ اب لِّغۡ امآ أنُزِّ ال إِّلايۡ اك مِّن رَّ ب اكَِّۖ اوإنِّلَّمۡ تافۡ اعلۡ فا اما ابلَّغۡ ات رِّ اساالتاهۥُۚ اوٱللَّهُ ايعۡصِّمُ اك مِّ ان ٱلنَّا ِۗسِّ
إنَِّّ ٱللَّ اه الَ ايهۡدِّي ٱلۡقاوۡ ام ٱلۡ اكَٰفِّرِّي ان  ١١ 

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

B). Surah an-Nahl ayat 67 : 
اومِّن ثا ام ارَٰتِّ ٱلنخَِّّيلِّ اوٱلۡۡاعۡنَٰابِّ تاتخَِّّذوُ ان  مِّنۡهُ اس اك ارا اورِّزۡقاً اح اسنًاۚ إنَِّّ فيِّ ذَٰالِّ اك الۡ ايٓ اة لِّ قاوۡمٖ ايعۡقِّلوُ ان  ١١
“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.”

              Ayat pertama           memberikan pengertian bahwa Nabi diberi tugas menyampaikan       wahyu yang    telah diterimanya, dan ayat kedua memberi rekomandasi kepada Nabi    SAW. Disamping        menyampaikan            juga menjelaskan    maknanya.       Hal      ini
menunjukan telah terjadi kajian atas al-
Quran, walaupun belum menjadi sebuah disiplin ilmu. 
       
           Rasulullah        amat    menyukai wahyu,        ia senantiasa        menunggu penurunan wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya, persis seperti dijanjikan Allah dalam (Surah al-Qiyamah : 17) :

إنَِّّ اعلايۡ انا اجمۡ اع ۥهُ اوقرُۡ اءاناهۥُ  ٦١
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya.”

            Oleh sebab itu, ia adalah hafiz
(penghafal) Quran pertama dan merupakan contoh paling baik bagi para sahabat dalam menghafalnya, sebagai realisasi kecintaan mereka kepada pokok agama dan sumber risalah. Quran diturunkan dua puluh tahun lebih. Proses penurunannya terkadang hanya turun satu ayat dan terkadang turun sampai sepuluh ayat. Setiap kali sebuah ayat turun, dihafal dalam dada dan ditempatkan dalam hati, sebab bangsa
Arab secara kodrati memang mempunyai daya hafal yang kuat. Hal itu karean umumnya mereka buta huruf, sehingga dalam penulisan berita-berita, syair-syair dan silsilah mereka dilakukan dengan catatan di hati mereka.

             Dalam             kitab    Shahih-nya Bukhari telah mengemukakan tentang adanya          tujuh    hafiz,   melalui tiga riwayat. Mereka adalah  Abdullah bin
Mas’ud, Salim bin Ma’qal bekas budak Abu Huzaifah, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda’.

1.     Dari Abdullah bin Amr bin As dikatakan : 

     “Aku telah mendengar Rasulullah berkata : Ambilah al-Quran dari empat orang Abdullah bin Mas’ud, Salim,
Muaz dan Ubai bin Ka’b.” Keempat orang tersebut dua orang dari muhajirin, yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Salim ; dan dua orang dari Ansar, yaitu Muaz dan Ubai. 
2.     Dari Qatadah dikatakan :
         “Aku telah bertanya kepada Anas bin Malik : Siapakah orang yang hafal Quran di masa Rasulullah? Dia menjawab :‘ Empat orang. Semuanya dari kaum Ansar : Ubai bin Ka’b, Muaz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid .’ Aku bertanya kepadanya : ‘Siapakah Abu Zaid itu ?’, ia menjawab : Salah seorang pamanku.”         Ibn Hajar ketika menuliskan biografi Sa’id bin ‘Ubaid menjelaskan bahwa ia termasuk seorang hafiz dan dijuluki pula dengan al-Qari’ (pembaca Qur’an).

          Penyebutan para hafiz yang tujuh atau delapan tidak berarti pembatasan, karena beberapa keterangan dalam kitab-kitab sejarah dan Sunan menunjukan bahwa para sahabat berlomba menghafalkan alQuran dan mereka memerintahkan anak-anak dan istri-istri mereka untuk menghafalkannya.

 Diriwayat Abdullah bin Amr berkata : 
“ Aku telah menghafalkan al-Quran dan aku menamatkannya pada setiap malam. Hal ini sampai kepada Nabi, maka katanya ‘Tamatkanlah dalam waktu satu bulan.”
        Disamping antusiasime para sahabat untuk mempelajari dan menghafal Quran Rasulullah pun mendorong mereka ke arah itu dan memilih orang tertentu yang akan mengajarkan Quran kepada mereka.’ Ubadah bin Samit berkata :  “Apabila ada seseorang yang hijrah (masuk islam) Nabi menyerahkannya kepada salah seorang di antara kami untuk mengajari Quran. 

              Demikian ditegaskan oleh Allah, “ Kami turunkan wahyu secara terpisah dan berangsur-angsur untuk memperteguh            hatimu             hai Muhammad.” Hal ini sangat penting sebagai dukungan moral, sebab biasanya kondisi Nabi sedang dalam keadaan susah, karena ejekan, cercaan, dan tantangan, sehingga perlu adanya landasan yang kuat, agar hati tetep teguh dan tidak goyah. Kemudian, agar mudah di hafal, Ibn Furak menjelaskan secara perinci “ Taurat diturunkan sekaligus, karena Nabi yang menerimanya dapat membaca dan menulis, yaitu Nabi Musa a.s. Adapun al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dan tidak dapat ditulis sekaligus, karena Nabi yang menerimanya seorang Nabi yang ummi, dalam arti tidak dapat membaca dan menulis. Andalan kebanyakan orang Arab adalah hafalan. Ini merupakan keistimewaan tersendiri; hafalan. AlMakki mengatakan turunnya al-Quran secara berangsur-angsur sangat tepat, jika al-Quran diturunkan tidak berangsur-angsur, maka orang banyak yang lari meninggalkan Islam, karena banyaknya larangan dan perintah. Dengan berangsur angsur, maka akan terasa ringan dan tidak begitu memberatkan.
         Karena proses turunnya wahyu adalah masalah pengalaman yang sangat sulit bagi Nabi sendiri; agar hukum-hukum Allah dapat diterapkan secara bertahap pula; dan agar lebih mudah dipahami, ringan diaplikasikan, dan gampang dihafalkan oleh orang-orang Mukmin para pengikut Rasulullah SAW.
            Itulah             sebabnya,        tidaklah mengherankan apabila Rasul menjadi seorang yang paling mengguasai alQuran. Ia bisa mengabdikan (menghimpun) al-Quran dalam hati yang mulia. Ia menjadi tumpuan bagi orang-orang Islam dalam memecahkan masalah yang mereka perlukan sehubung dengan masalah al-Quran.
           Para sahabat r.a. berlombalomba dalam membaca dan menpelajari al-Quran. Mereka mencurahkan segala kemampuannya untuk menguasai dan menghafalkan al-Quran. 
            

B.  PENULISAN AL-QURAN PADA MASA   NABI SAW

         Keistimewaan yang kedua dari al-Quran Karim juga ialah pengumpulan dan penulisannya dalam lembaran.           Rasulullah       SAW.
Mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turunnya ayat al-Quran, beliau memerintahkan kepada mereka untuk menulisnya dalam rangka memperkuat catatan dan dokumentasi kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah Azza Wa Jalla , sehingga penulisan tersebut dapat memudahkan penghafalan dan memperkuat daya ingat. 
         Nabi SAW adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, makai a tidak mungkin menulis bacaan al-Quran yang diterima
Malaikat Jibril. Oleh sebab itu Nabi SAW menunjuk beberapa sahabat untuk menjadi juru tulis. Persoalan adalah apakah Nabi SAW hanya membimbing bacaan ataukah
sekaligus mengarahkan penulisan alQuran?. Tidak ada penjelasan yang bersumber dari Nabi SAW. Karena itu, para ulama berbeda pendapat. Abu bakar al-Baqilani dan Ibnu Khaldun berpendapat bahwa bentuk tulisan dalam Mushaf al-Quran merupakan hasil pemikiran para sahabat sesuai dengan apa yang dibacakan Nabi SAW kepada mereka. Tingkat pengetahuan penulisan para sahabat berbeda, sehingga bentuk tulisan al-
Quran pun banyak yang menyalahi kaedah penulisan yang benar. 
           Untuk itu, Nabi SAW juga mengarahkan bentuk penulisan alQuran kepada para sahabat. Di antara beberapa hadis yang memperkuat pendapat kemampuan Nabi SAW dalam menulis adalah sabda Nabi
SAW kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan, salah seorang juru tulis Nabi SAW.   

C.    CARA- CARA PENULISAN

            Adapun cara mereka menulis al-Quran adalah mengunakan pelepah-pelapah kurma, kepingan batu, kulit/daun kayu, tulang binatang dan sebagainya. Hal itu karena belum ada pabrik kertas di kalangan orang Arab. Pada saat itu pabrik kertas hanya terdapat di Parsi dan Romawi. Itu pun masih sangat kurang dan tidak disebarkan. Itulah sebabnya, orangorang Arab menulisnya sesuai dengan perlengkapan yang dimiliki dan dapat dipergunakan untuk menulis.
Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit r.a bahwa ia berkata,”Kami menulis alQuran di hadapan Nabi pada kulit ternak.”  Maksudnya adalah mengumpulkannya agar sesuai dengan petunjuk Nabi SAW. dan menurut perintah dari Allah SWT.
Para ulama sepakat bahwa pengumpulan al-Quran adalah tauqifi (menurut ketentuan) artinya susunannya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini. Telah disebutkan bahwa Jibril a.s bila membawakan sebuah atau beberapa ayat kepada Nabi, ia mengatakan, “Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk menempatkan pada urutan ke sekian
surat anu....” 
                Rasulullah SAW. berpulang ke rahmatullah setelah beliau selesai menyampaikan           risalah dan menyampaikan amanat serta memberi petunjuk      kepada           umatnya          untuk menjalankan     agama yang           lurus. Setelah beliau wafat, kekhilafahan dipegang oleh Abu Bakar Siddiq r.a. Pada masa    pemerintahannya,       ia banyak menghadapi malapetaka, berbagai kesulitan dan problem yang rumit, di antaranya memerangi orangorang yang murtad (keluar dari agama Islam ) yang ada di kalangan orang Islam serta memerangi pengikut Musailamah Al-Kadzdzab. 
               Ketika terjadi peperangan Yamamah, banyak kalangan sahabat yang hafal al-Quran dan ahli bacanya yang gugur. Jumlahnya lebih dari 70 orang          huffaz ternama.           Melihat banyaknya penghafal al-Quran yang gugur, Umar merasa prihatin lalu beliau menemui Abu Bakar yang sedang dalam keadaan sedih dan sakit.
Umar bermusyawarah denganya supaya mengumpulkan al-Quran karena khawatir akan lenyap dengan banyaknya huffaz yang gugur. Pada awalnya, Abu Bakar merasa ragu, namun setelah dijelaskan oleh Umar tentang nilai-nilai positifnya, ia menerima usul tersebut. Dan Allah melapangkan Allah dada Abu Bakar untuk melaksanakan tugas yang mulia tersebut. Ia mengutus Zaid bin Tsabit dan menyuruh agar segera menangani dan mengumpulkan al-Quran dalam satu mushaf. 
                Jibril membacakan Quran
kepada Rasulullah pada malammalam bulan Ramadhan setiap tahunnya. Abdullah bin Abbas berkata :

    ”Rasulullah adalah orang paling pemurah, dan puncak kemurahannya pada bulan Ramadhan ketika ia ditemui oleh Jibril. Ia ditemui Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan; Jibril membacakan Quran kepadanya, dan ketika Rasulullah ditemui oleh
Jibril itu ia sangat pemurah sekali.”                 
















 BAB II
PENUTUP


A. KESIMPULAN 
1.   Jadi, pulanya al-Quran bukanlah seperti yang kita pegang saat ini, akan tetapi al-Quran itu adalah kumpulan mushaf-mushaf yang ditulis oleh sahabat atas Rasulullah
2.   Upaya yang dilakukan Rasulullah untuk menjaga dan memelihara ayat-ayat itu dan menyampaikannya kepada para sahabat yang kemudian juga menghafalnya sesuai dengan yang disampaikan Nabi.
3.   Pembukuan al-Quran yang dilakukan oleh Abu Bakar didasari oleh kekhawatiran al-Quran akan hilang jika tidak dikumpulkan karena telah banyak para Qari’ 















DAFTAR PUSTAKA


  
Ali Ash-Shaabuuniy, Muhammad. 2008. 
Studi Ilmu    al-Quran , Bandung: Juli.
Amroeni Drajat. 2017.  ULUMUL QURAN     Pengantar Ilmu-Ilmu Al-Quran , Kencana Jl. Kebayunan No.1 Tapos-Cimanggis, Depok.
Asy'ari. 2002.  Pengantar Studi    al-Quran ,IAIN SUNAN AMPEL PRESS Surabaya:
2002
Aziz, Moh. Ali. 2018.Mengenal Tuntas AlQuran, IMTIYAZ, Surabaya.
Manna’ Khalil, al-Qattan. 2016.  Studi IlmuIlmu Quran, Bogor : Literia AntarNusa.
Mudzakir AS. 2002. STUDI ILMU-ILMU QURAN, Lintera AntarNusa, Surabaya. 

Musyafa’ah Sauqiyah. 2011.  STUDI ALQURAN, Surabaya.
Sholeh Shonhaji. 2002. Pengantar STUDI
ISLAM , SUNAN AMPEL PRESS
Surabaya. 
Subandi Bambang. 2011. STUDI HUKUM ISLAM, Surabaya : UINSA Press, Juli.
Syafaq Hammis. 2011.  Pengantar Studi Islam, Surabaya : UINSA Press, Juli.
Zuhdi Achmad. 2018. Studi Ilmu    al-Quran , Surabaya: UINSA Press.