Bahagia itu Sederhana
Tepat pada hari
Sabtu, 23 November 2019 mahasiswa KPI A2 semester I mengikuti seminar PTSB
(Pendalaman Terapi Sholat Bahagia) yang diadakan oleh seorang dosen studi
al-Qur’an Prof. Ali Aziz M.Ag. Masing-masing anak diberi tugas untuk mencermati
dan mencatat apa yang disampaikan nya.
HIDUP SEHAT DAN SELALU BAHAGIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi
Shalat Bahagia”
60 Menit Terapi
Sholat Bahagia adalah salah satu dari sekian banyaknya buku yang ditulis
oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag yang
berisi Kebahagiaan sederhana melalui sholat telah beredar dan sudah banyak
dibaca oleh publik. Bukan hanya sekedar membaca bukunya saja, tetapi beliau
juga mengadakan PTSB (Pendalaman Terapi Sholat Bahagia) untuk memahami dan
menghayati secara maksimal dengan pencerahan dan bimbingan praktek dari beliau
sendiri yang nantinya dijadikan pegangan. Sebelumnya saya akan memperkenalkan
Biografi beliau.
Nama beliau Prof. Dr. Moh. Ali Aziz,
M.Ag Dilahirkan di Lamongan, 09-06-1957; beristri, 7 anak, 3 cucu; alumni Ponpes Ihyaul Ulum Gresik (1975); Guru
Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya (sejak 2004); Dosen Teladan
Nasional (2004 dan 2007); Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (2000-2004); Pengurus
Pembaca dan Penghafal Al Qur’an Jatim (1994); Ketua Asosiasi Profesi Dakwah
Indonesia (APDI 2009-2013); Unsur Ketua Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur;
Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim (2011-sekarang); Konsultan Pendidikan
Yayasan Khadijah (2011-sekarang); Hakim MTQ Tafsir Bahasa Inggris; Pengurus
Lembaga Pengembangan Tilawah Al Qur’an;
Asesor Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi; Saksi Ahli Mahkamah Konstitusi tentang UU
Penodaan Agama; Penasehat Forum
Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama; Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Al
Khoziny Sidoarjo (1990-2009); Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Kyai Ibrahim
Surabaya; Penasehat Badan Komunikasi
Pemuda Remaja Masjid Indonesia (2002); Pengisi Mimbar Islam di TVRI Jatim;
Kajian Terapi Shalat Bahagia di RRI Jakarta pro.1 dan 4 (91.2 FM dan 92.8 FM)
dan Radio El Victor Surabaya 93.3 FM. Imam shalat taraweh/penceramah Islam di
Hongkong, Macau, Senzhen, Taiwan (2000-sekarang), Malaysia (2004), Jepang (2006
dan 2013), Iran (2008, 2009,2010), Mauritius-Afrika (2000), Inggris (2005),
Belanda (2007), Bangladesh (2013, 2014, 2015) dan Nepal (2015). Buku-buku yang
ditulis: 60 Menit Terapi Shalat Bahagia (UIN Sunan Ampel Press 2012) sekaligus
sebagai founder dan trainer Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB), Doa-doa
Keluarga Bahagia (Surabaya, Kun Yaquta Foundation 2014), Bersiul di Tengah
Badai (UIN Sunan Ampel Press 2015), Teknik Khutbah Jum’at Komunikatif (UIN
Sunan Ampel Press 2014), Mengenal Tuntas Al-Qur’an (MTQ) (Imtiyaz Surabaya
2011), Ilmu Dakwah (Prenada Jakarta 2008), Dinamika Kepemimpinan Tokoh Agama di
Indonesia (Harakat Media Jogjakarta 2008), Hijrah (Harakat Media Jogjakarta
2008), Solusi Ibadah di Hongkong (Duta Masyarakat Surabaya 2008), Solusi Ibadah
di Taiwan (PCNU Taipei 2010), (2014); Dalam proses cetak buku Terapi Shalat
Sukses Studi. Pengisi kajian tafsir Al Qur’an di Majalah Nurul Hayat dan
Majalah Sabilillah, konsultasi keluarga bahagia di Majalah Nurul Falah; rubrik
agama di Harian Duta Masyarakat (2010), Rubrik Dialog mualaf di Tabloid Nurani
(1995). (Sumber : http://www.terapishalatbahagia.net/ )
Tanggal 23 November 2019 kemarin kegiatan PTSB tersebut diikuti
oleh sebagian Mahasiswa/mahasiswi
Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya diantaranya
Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Ilmu Komunikasi, Manajemen Dakwah, Bimbingan
Konseling Islam, Pengembangan Masyarakat Islam.
Sebelumnya peserta sudah harus membaca bukunya terlebih dahulu untuk
bisa mengikuti PTSB tersebut. Kata beliau jika belum membaca buku 60 Menit
Terapi Sholat Bahagia maka akan membutuhkan waktu yang lama sekitar 2 hari.
Orang umum 2 hari, kalau anak cerdas hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja,
tuturnya. Sebelum kegiatan PTSB kita juga sudah di intruksikan untuk menulis
beberapa syarat mengikuti Pendalaman Terapi Sholat Bahagia, diantaranya ;
1. Menulis 10 orang yang paling berjasa
dalam hidup kita.
2. Menulis 5 orang yang menjengkelkan/
menyakiti kita
3. Menulis 10 dosa yang pernah kita lakukan
4. Menulis 30 nikmat terbesar yang kita
rasakan (sejak kecil hingga sekarang)
5. Menulis 10 masalah yang paling
mengganggu/ menyedihkan dalam perjalanan hidup kita ( ada yang bersifat rahasia
dan ada yang tidak)
Tulisan itu harus
dibawah dan disimpan. Kata beliau cukup kita dan Allah saja yang tau. Dengan
bantuang Daftar masalah dan harapan yang telah disiapkan itu , kita bisa sujud
dan rukuk lebih lama dengan penuh penghayatan. Untuk mengajukan permohonan
judul skripsi kepada dosen saja kita menyiapkan kalimat yang sebaik mungkin.
Mengapa untuk berdoa kepada Allah, kita tidak menulis doa dengan pilihan kata
dan kalimat yang terbaik sebelum shalat?
Sholat adalah
dzikir, dan dengan berdzikir kepada Allah SWT hati kita menjadi tenang. Shalat
adalah interaksi seorang hamba dengan Rabb-nya. Seorang hambar berdiri
dihadapan Rabb-nya dengan ketundukan, perendahan diri, bertasbih dengan
memuji-Nya, membaca firman-Nya, mengangungkan Allah baik dengan perkataan dan
perbuatan, memuji Allah SWT dengan pujian yang memang layak ditunjukkan untuk
diri-Nya, kita meminta kepada Allah berupa kebutuhan dunia dan akhirat.
Sholatadalah cara khusus untuk mengatasi
problem, selain menjadi kewajiban bagi umat islam yang harus dikerjakan setiap
hari banyak sekali manfaat dari sholat, oleh karena itu semua bisa diatasi.
حي على الصلاة # حي
على الفلاح…
“Mari tunaikan
sholat… Mari bahagia..”
Tidak ada agama yang menyuruh kita
untuk The Best, kecuali Islam. Lafadz diatas sangat jelas bahwa jika ingin
hidup bahagia maka tunaikanlah sholat. Allah menginginkan setiap hamba itu
mudah dalam kehidupan nya dan tidak berkehendak setiap hamba mengalami
kesulitan dalam kehidupan nya. Jika kita mengalami suatu kesulitan atau masalah
yang tak pernah tuntas, yang salah bukan Allah, yang salah kita karena kita
tidak pernah mau keluar dari kesulitan tersebut atau kita ingin keluar namun
tidak sesuai dengan cara yang Allah berikan. Ketika seorang hamba merasa “aduuh
saya punya masalah, saya sakit….” dan sebagainya. Ingatlah semua itu akan mudah
dilalui jika kita telah mampu menunaikan apa yang Allah perintahkan. Jangan
bermimpi hidup tanpa cobaan, sebab kita berada di dunia, bukan di surga. Cobaan
itu banyak macam nya ada hal nya yang berbentuk psikis, seperti perasaan
gelisah, takut, gundah atau lain nya. Ada juga yang berbentuk fisik, seperti
sakit, kekurangan biaya hidup, dan lain lain.
Lafadz diatas adalah potongan dari
lafadz yang dilantunkan dalam adzan. Adzan itu sendiri suatu panggilan bagi
umat Islam untuk melakukan salah satu perintah Allah yaitu sholat. Perintah
sholat dapat dikatakan suatu perintah Allah yang sangat sakral, dimana pada
umumnya semua perintah Allah penyampain nya melalui malaikat Jibril. Sedangkan
perintah sholat Allah memerintahkan
langsung Nabi Muhammad untuk menjemput ke langit atau sidrotul muntaha. Sama
halnya seperti ketika mengirimkan pesan melalui handphone, pesan akan terkirim
ke handphone orang lain dengan alur keatas bukan kebawah. Dengan sholat umat
islam pasti..pasti..dan pasti bahagia serta sholat dapat mengangkat derajat
seseorang akan lebih tinggi disisi Nya, karena ketika mati bukan harta yang
pertama kali dihisab melainkan sholat.
Manusia pasti memiliki rencana
tersendiri, namun sebagus-bagus nya kita merencanakan suatu hal masih lebih
bagus rencana Allah. Kita menginginkan sehat sedangkan Allah menginginkan kita
sakit, kita menilai seseorang itu baik sedangkan penilaian Allah ia jelek,
banyak hal yang kita inginkan atau kita sukai namun keinginan tersebut belum
tentu sama dengan keinginan Allah. Hal ini telah dijelaskan dalam salah satu
firman Allah yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat
baik bagi mu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk
bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. al-Baqarah:216).
Seperti halnya dengan seorang gadis yang ingin selamat dalam perjalanan nya,
namun Allah menginginkan ia tidak selamat dalam artian ia mengalami kecelakaan.
Akan tetapi dengan kecelakaan tersebut ia menerima suatu kenikmatan dari Allah
yaitu bertemu dengan seorang pria yang menjadi jodohnya. Oleh karena itu jangan
pernah takut untuk menghadapi masalah hidup, karena setiap masalah pasti ada
hikmahnya tersendiri. Itulah salah satu contoh dari scenario Allah kepada hamba
Nya.
“Barang siapa yang tidak suka dengan
kehendak ku maka carilah Tuhan selain aku dan barang siapa yang mengeluh enak
atau tidak enaknya dengan kehendak ku maka janganlah memanggilku lagi”. Maksud
dari kalimat tersebut ialah mengajarkan kita untuk menjadi seorang hamba yang
menerima lapang dada akan kehendak Allah serta mengajarkan kita untuk tetap
kuat dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup tanpa adanya keluhan. Pada hakekat
nya Allah sendiri tidak suka dengan seorang hamba yang terus menerus mengeluh
dari apa yang ia alami. Kata kasar nya masalah itu dihadapi bukan dikeluhin.
Seorang guru favorit saya Prof. Ali Aziz memberi suatu prinsip Berani hidup
berani menghadapi masalah. Tidak berani, mati ae, singkat, padat, dan jelas.
Salah satu syarat terkabulnya do’a ialah stop complanning. Sesungguhnya tidak
ada do’a yang tidak dikabulkan. Hanya saja Allah masih melihat proses mu,
memilih waktu yang tepat, serta melihat kesiapan mu dalam menerima nya. Sama
halnya seperti seorang anak yang berumur tiga tahun dimana anak itu meminta
ayahnya untuk membelikan motor besar. Namun, apa kata ayah ketika itu
“yah…nanti kalau kamu sudah besar”.
Masalah hidup itu realita nya
berat, akan tetapi jika kita memiliki mindset bahwa kita yakin bisa
menyelesaikan nya dengan mudah insyaAllah masalah tersebut akan sangat mudah
dilalui. Berbeda dengan seseorang yang memiliki mindset bahwa masalah ku sulit,
maka masalah tersebut akan sulit ia lalui. Pemikiran manusia sama hal nya
seperti perkataan yang tidak diucapkan dan perkataan itu sama halnya dengan
do’a. Oleh karena itu ubahlah mindset mu yang dulunya negative menjadi
positif.
Penjelasan diatas menerangkan, agar
kita selalu mengingat Allah dimana dan kapanpun. Artinya dengan mengingat Allah
kita akan mudah melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kita dan menjauhi
larangannya. Juga menerangkan bagaimana menghadapi suatu masalah yang benar.
Hal ini dapat disimpulkan dalam gerakan sholat lima waktu. Sholat adalah salah
satu cara yang ampuh dalam menghadapi hidup. Jika sholat kita sudah baik maka
segala yang ada di diri kita akan baik pula. Maka dengan sholat kita dapat
memiliki keuntungan untuk lebih dekat dengan Allah dan mengingat Allah. Gerakan dalam sholat memiliki arti dan
fungsi tersendiri. Menurut ilmu kedokteran gerakan sholat sangat membantu
kinerja anggota tubuh bagian dalam, salah satunya gerakan sujud melancarkan
peredaran darah jantung. Sedangkan menurut ajaran agama Islam sholat memiliki
fungsi tertinggi dalam kehidupan. Contohnya, dengan melakukan sholat kita
diberi ketenangan, ketentraman, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan, juga
dapat mendekatkan kita dengan Allah.
Berdo’alah di dalam atau di luar
sholat. Namun yang sangat dianjurkan berdo’alah ketika kamu melakukan atau
melaksanakan sholat, seperti dalam gerakan rukuk dan sujud. Ada yang mengatakan
paling dekat nya hamba dengan Allah ketika ia sujud maka minta lah apa yang
kamu inginkan atau butuhkan. Kita tidak akan bisa mengetahui kapan terkabulnya
do’a, karena terkabulnya do’a ialah salah satu scenario Allah yang dirahasiakan
pada umatnya.
Gerakan PTSB ini dapat memberikan
bimbingan serta praktek sholat agar kita dapat lebih memahami, mengingat lebih
kuat, memantapkan keyakinan akan keagungan Allah, lebih percaya diri, dan
selalu optimis dalam menyelesaikan semua masalah hidup menuju hidup yang berkah
dan bahagia. Wajah penuh bahagia adalah salah satu cermin syukur kepada Allah.
Gerakan PTSB juga mengajarkan kita bagaimana memahami fungsi dari setiap
gerakan yang ada dalam sholat dan apa yang harus kita lakukan dalam setiap
gerakan sholat tersebut, antara lain:
1. Takbiratul Ikhram (berdiri) yang memiliki
kata kunci SUBHAN (Syukur, Bimbingan, Ketahanan iman). Takbiratul Ikhram
menunjukan dari awal mula aktifitas kita diwaktu pagi hari.
2. Rukuk yang memiliki kata kunci TURUT (Tunduk
dan Menurut). Rukuk menunjukan agar kita selalu menjadi seorang hamba yang
ta’at serta tawadhuk. Segala sesuatu hanyalah milik dan dari Allah maka
simpan baik-baik sombong mu.
3. I’tidal (berdiri setelah rukuk) yang memiliki
kata kunci HADIR (Hak pujian dan Takdir). I’tidal mengartikan bahwa yang
mempunyai hak atas pujian hanyala Allah yang maha Agung dan yang menetapkan
takdir setiap makhluk hanyalah Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang
mengetahui takdirnya kecuali Allah. Takdir adalah rahasia Allah dari
pengetahuan semua makhluknya.
4. Sujud yang
memiliki kata kunci MASJID (Maaf, Sinar Jiwa dan Raga). Sujud ialah salah satu
gerakan sholat yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada Allah,
karena pada saat sujud kita sedang berkomunkasi langsung dengan Allah. Sujud
merupakan bentuk rasa maaf atau memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang
telah kita perbuat. Kita akan menyadari dengan sendirinya.
5. Tasyahud awal
(duduk diantara dua sujud) yang memiliki kata kunci AKSI (Ampunan, Kasih
sayang, Sejahtera dan memperkuat Iman). Do’a dalam duduk diantara dua sujud
sangat mencakup atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.
6. Tasyahud akhir
(duduk diakhir sholat) yang memiliki kata kunci SOSIAL (Sholawat, Persaksian
dan Tawakkal). Tasyahud akhir menunjukan akan kesaksian kita atas utusan Allah
yang mulia yakni nabi Muhammad saw. serta rasa pasrah kita akan semua do’a dan
usaha yang telah kita lakukan selama ini.
Gerakan PTSB menyadarkan saya
akan pentingnya sholat dalam kehidupan sehari-sehari dan membuat saya lebih
memahami makna bacaan yang ada dalam sholat. Sebelum mengikuti PTSB saya
memiliki suatu masalah yang dari dulu belum dapat saya tangani sendiri, antara
lain: saya belum bisa mengatur atau memenage waktu yang baik, saya masih ragu
dengan apa yang saya lakukan dan sering merasa gundah seketika. Hari-hari saya
sering dilewati dengan perasaan yang sangat membosankan. Namun setelah saya
mengkuti gerakan PTSB semua berubah setelah saya menrapkan nya dalam sholat.
Awalnya saya merasa belum terbiasa dengan renungan dalam sholat yang selalu merenungkan
semua permasalahan hidup dan berdoa. Saya lebih merasa nyaman dengan hari-hari
saya.
Dapat disimpulkan jika ingin hidup
bahagia jangan pernah menyepelekan waktu sholat. Jika telah mendengar panggilan
adzan maka segeralah untuk bersiap dan melaksanakannya. Semua tingkah laku atau prilaku kita, baik
buruknya kita dapat dilihat dari sholat nya. Ketika kita ingin mengubah
keburukan yang ada dalam diri maka yang terlebih dahulu yang diubah adalah
sholat nya. Sholat merupakan kunci dari segala hal. Mulai dari kesuksesan kita
di dunia hingga di akhirat nanti. Adapun kehkusyu’an kita dalam sholat dapat
ditemui saat kita benar-benar faham dengan bacaan yang terkandung dalam sholat.
Segala sesuatu itu ada ilmu nya, melakukan suatu hal tanpa didasari dengan ilmu
akan menjadi sia-sia. Sama halnya dengan sholat jika kita melakukan nya tanpa
mengetahui serta memahami nya maka akan sia-sia.
Qowi Hanif Witanto
Surabaya, 30
November 2019
PENGAJARAN ALQURAN PADA MASA NABI
Prof. Dr. Moh. Ali
Aziz, M.Ag
Jurusan Komunikasi
Penyiaran Islam
Fakultas Dakwah Dan
Komunikasi
Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya
2019
KATA PENGANTAR
Pertama, marilah
kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan. Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabat beliau.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah
sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Qur’an.
Seperti diketahui Bersama, al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam tidak pernah
habis dibicarakan dari berbagai segi. Karena itu, dalam makalah ini akan
dibahas tentang wahyu yang turun pertama dan terakhir beserta tempatnya.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof.
Dr. Moh. Ali Aziz, M.ag selaku dosen mata kuliah Studi al-Qur’an, yang telah
memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih juga saya
ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu selama proses pembuatan
makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam makalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun
senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.
Surabaya ,31 Agustus 2019
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PEMBAHASAN
A.
Pengajaran Alquran Pada Masa Nabi SAW
B.
Penulisan Alquran Pada Masa Nabi SAW
C.
Cara-Cara Penulisan Alquran
BAB II PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PEMBAHASAN
A. PENGAJARAN
AL-QURAN PADA MASA NABI SAW
Hingga
Nabi SAW wafat, bacaan al-Quran senantiasa mengema. Tidak sedikit sahabat yang
telah hafal al-Quran sekaligus memahami kandungannya. Hal ini tidak terlepas
dari pola pengajaran al-Quran yang dilakukan oleh Nabi SAW, sekalipun ia ummi (tidak bisa membaca dan menulis).
Nabi SAW juga tidak pernah belajar membaca, apalagi mengajarkan bacaan apapun
sebelumnya. Pola pengajara Rasulullah SAW tersebut tidak lain mengikuti pola
pengajaran alquran oleh Jibril AS kepada Nabi SAW. Saat menerima wahyu pertama di gua
Hira’, Nabi SAW secara tidak langsung telah diajari oleh Jibril Alaihi
Salam bagaimana cara mengajarkan al-Quran. Hanya satu cara,
yaitu iqra’ (membaca penuh makna). Maksudnya, al-Quran tidak sekedar dibaca
dengan lisan, tetapi juga dipahami dengan pikiran. Dengan cara yang dilakukan
Jibril Alahi Salam, Nabi SAW merasa senang mengikutinya, walaupun penerimaan
wahyu yang diturunkan Allah sangat melelahkan fisik Nabi SAW dalam mengajarkan
al-Quran kepada keluarga dan para sahabat terdekatnya. Begitu senangnya dalam
menerima pengajaran Jibril Alaihi Salam, sampai Nabi SAW membacanya dengan
tergesa-gesa.
Allah Subhanallah Wata’ala
menegur Nabi SAW dengan menurun-kan surat alqiyamah [75] ayat 16-19 :
الَ ت احُ رِّكۡ
بِّهۦِّ لِّ اسان ااك لِّتاعۡ اج ال بِّهۦِّٓ
٦١ إنَِّّ اعلايۡناا اجمۡ
اعهۥُ اوقرُۡ اءاناهۥُ ٦١ فاإذِّاا قا
ارأۡنَٰاهُ فاٱتبَِّّعۡ قرُۡ اءا انهۥُ ٦١ ثمَُّ
إنَِّّ اعلايۡناا
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al Quran karena hendak
cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.Apabila Kami
telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya
atas tanggungan
Dalam ayat diatas, Nabi SAW dilarang Allah SWT menirukan
bacaan Jibril AS kalimat demi kalimat sebelum Jibril AS selesai membacakannya,
Nabi SAW dapat menghafal dan dapat memahami betul ayat yang diturunkan itu.
Berdasar ayat diatas, Ibnu Katsir (1997 : IV: 472) menjelaskan tiga cara
pengajaran alQuran yang diterima Nabi SAW, yaitu :
a) Perhimpunan
al-Quran di benak Nabi SAW, secara otomatis, Nabi SAW langsung hafal.
b) Nabi
SAW dituntun Jibril AS membaca al-Quran kalimat demi kalimat. Nabi SAW
sebenarnya ingin segera membaca wahyu yang sudah dihafalnya, namun Allah SWT
menghendaki agar Nabi SAW mengikuti bacaan Jibril AS dahulu.
c) Nabi
SAW diberitahu penjelasan mengenai kandungan wahyu alQuran yang baru
diterimanya. Dalam setahun sekali, terkadang dua kali, Jibril AS menyimak
bacaan Nabi SAW secara
Metode
pengajaran yang diterapkan Jibril AS itulah yang diikuti Nabi SAW saat
mengajarkan al-Quran kepada para sahabat. Karena umumnya para sahabat memilki
kecerdasan dan terbiasa menghafal, maka mereka tidak sulit untuk
menghafalkannya. Setelah, mereka membacanya di hadapan Nabi SAW, sementara Nabi
SAW menyimaknya.
Hal ini
karena Nabi pun diutus Allah di kalangan orang-orang yang ummi pula.
هُ او ٱلَّذِّي اب
اع اث فيِّ ٱلۡۡ مُِّ ي ِّ ان ارسُوالَ
مِّنۡهُمۡ ايتۡلوُاْ اعلايۡهِّمۡ اءا ايَٰتِّۦِّه اوي ازُ كِّيهِّمۡ اوي
اعُلِّ مُهُمُ ٱلۡكِّتَٰا اب اوٱلۡحِّكۡ امةا اوإنِّ اكانوُاْ مِّن قابۡلُ لافِّي
اض الَٰلٖ مُّبيِّنٖ ٢
“Dialah
yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan
mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang
Biasanya
orang-orang yang ummi itu mengandalkan kekuatan hafalan dan ingatanya. Pada
masa diturunkan al-Quran bangsa Arab berada dalam martabat yang begitu tinggi
dan sempurna daya ingatnya. Mereka sangat kuat dalam hafalannya serta daya
pikirannya begitu terbuka. Mereka bahkan banyak yang hafal beratus-ratus ribu
syair dan mengetahui silsilah serta nasab (keturunannya). Mereka dapat
mengungkapkannya di luar kepala dan mengetahui sejarahnya. Jarang sekali di
antara mereka yang tak bisa mengungkapkan silsilah dan nasab tersebut, tidak
hafal “Almuallaqatul Asyar” yang
begitu banyak syairnya lagi pula sulit dalam menghafalnya.
Ketika
al-Quran datang kepada mereka dengan jelas, tegas ketentunya dan keluhurannya
kandungan isinya, mereka merasa kagum. Akal pikiran mereka terkuasai oleh
al-Quran, sehingga seluruh perhatiannya dicurahkan kepada al-Quran. Mereka
menghafalnya ayat demi ayat dan surat demi surat. Ketika berada di Gua Hira itu
Nabi bertakhannus, yang kemudian Allah mengutus Jibril AS memeluk Nabi Muhammad
dan membisikan agar ia membaca kalimat iqra’. Namun Nabi menjawab dengan
jawaban saya tidak dapat membaca. Hal demikian diulanginya sampai tiga kali
dengan jawaban yang sama dari Nabi. Malaikat Jibril kemudian menuntun Nabi
untuk membaca lima ayat pertama dari surat al-Alaq.
Sebagai Rasul, beliau
ditugaskan menyampaikan wahyu sekaligus menjelaskan maksud
dan kandungan isi al-Quran kepada
umatnya dalam rangka membumikan makna makna al-Quran. Sebagaimana ditegaskan
dalam beberapa ayat dalam al-Quran, antara lain :
A). Surah al-Maidah ayat
67 :
۞ ايَٰٓأايُّ اها ٱلرَّسُولُ اب لِّغۡ امآ
أنُزِّ ال إِّلايۡ اك مِّن رَّ ب اكَِّۖ اوإنِّلَّمۡ تافۡ اعلۡ فا اما ابلَّغۡ ات
رِّ اساالتاهۥُۚ اوٱللَّهُ ايعۡصِّمُ اك مِّ ان ٱلنَّا ِۗسِّ
إنَِّّ ٱللَّ اه الَ ايهۡدِّي ٱلۡقاوۡ ام ٱلۡ
اكَٰفِّرِّي ان ١١
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan
jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak
menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
B). Surah an-Nahl ayat 67 :
اومِّن ثا ام
ارَٰتِّ ٱلنخَِّّيلِّ اوٱلۡۡاعۡنَٰابِّ تاتخَِّّذوُ ان مِّنۡهُ اس اك ارا اورِّزۡقاً اح اسنًاۚ إنَِّّ
فيِّ ذَٰالِّ اك الۡ ايٓ اة لِّ قاوۡمٖ ايعۡقِّلوُ ان ١١
“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan
dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.”
Ayat pertama memberikan
pengertian bahwa Nabi diberi tugas menyampaikan wahyu yang telah diterimanya, dan ayat kedua memberi
rekomandasi kepada Nabi SAW.
Disamping menyampaikan juga menjelaskan maknanya. Hal
ini
menunjukan telah terjadi kajian atas al-
Quran, walaupun belum menjadi sebuah disiplin ilmu.
Rasulullah amat menyukai wahyu, ia senantiasa
menunggu penurunan wahyu dengan
rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya, persis seperti dijanjikan Allah
dalam (Surah al-Qiyamah : 17) :
إنَِّّ اعلايۡ انا
اجمۡ اع ۥهُ اوقرُۡ اءاناهۥُ ٦١
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan
(membuatmu pandai)
Oleh
sebab itu, ia adalah hafiz
(penghafal) Quran pertama dan merupakan contoh paling baik
bagi para sahabat dalam menghafalnya, sebagai realisasi kecintaan mereka kepada
pokok agama dan sumber risalah. Quran diturunkan dua puluh tahun lebih. Proses
penurunannya terkadang hanya turun satu ayat dan terkadang turun sampai sepuluh
ayat. Setiap kali sebuah ayat turun, dihafal dalam dada dan ditempatkan dalam
hati, sebab bangsa
Arab secara kodrati memang mempunyai daya hafal yang kuat.
Hal itu karean umumnya mereka buta huruf, sehingga dalam penulisan
berita-berita, syair-syair dan silsilah mereka dilakukan dengan catatan di hati
mereka.
Dalam kitab Shahih-nya Bukhari telah mengemukakan
tentang adanya tujuh hafiz, melalui
tiga riwayat. Mereka adalah Abdullah bin
Mas’ud, Salim bin Ma’qal bekas budak Abu Huzaifah, Muaz
bin Jabal, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda’.
1. Dari
Abdullah bin Amr bin As dikatakan :
“Aku telah
mendengar Rasulullah berkata : Ambilah al-Quran dari empat orang Abdullah bin
Mas’ud, Salim,
Muaz dan Ubai bin Ka’b.” Keempat orang tersebut dua orang
dari muhajirin, yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Salim ; dan dua orang dari Ansar,
yaitu Muaz dan Ubai.
2. Dari
Qatadah dikatakan :
“Aku telah
bertanya kepada Anas bin Malik : Siapakah orang yang hafal Quran di masa
Rasulullah? Dia menjawab :‘ Empat orang. Semuanya dari kaum Ansar : Ubai bin
Ka’b, Muaz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid .’ Aku bertanya kepadanya :
‘Siapakah Abu Zaid itu ?’, ia menjawab : Salah seorang pamanku.” Ibn Hajar ketika menuliskan biografi
Sa’id bin ‘Ubaid menjelaskan bahwa ia termasuk seorang hafiz dan dijuluki pula
dengan al-Qari’ (pembaca Qur’an).
Penyebutan
para hafiz yang tujuh atau delapan tidak berarti pembatasan, karena beberapa
keterangan dalam kitab-kitab sejarah dan Sunan menunjukan bahwa para sahabat
berlomba menghafalkan alQuran dan mereka memerintahkan anak-anak dan
istri-istri mereka untuk menghafalkannya.
Diriwayat
Abdullah bin Amr berkata :
“ Aku telah menghafalkan al-Quran dan aku menamatkannya
pada setiap malam. Hal ini sampai kepada Nabi, maka katanya ‘Tamatkanlah dalam
waktu satu bulan.”
Disamping
antusiasime para sahabat untuk mempelajari dan menghafal Quran Rasulullah pun
mendorong mereka ke arah itu dan memilih orang tertentu yang akan mengajarkan
Quran kepada mereka.’ Ubadah bin Samit berkata : “Apabila ada seseorang yang hijrah (masuk
islam) Nabi menyerahkannya kepada salah seorang di antara kami untuk mengajari
Quran.
Demikian ditegaskan oleh Allah, “
Kami turunkan wahyu secara terpisah dan berangsur-angsur untuk memperteguh hatimu
hai Muhammad.” Hal ini
sangat penting sebagai dukungan moral, sebab biasanya kondisi Nabi sedang dalam
keadaan susah, karena ejekan, cercaan, dan tantangan, sehingga perlu adanya
landasan yang kuat, agar hati tetep teguh dan tidak goyah. Kemudian, agar mudah
di hafal, Ibn Furak menjelaskan secara perinci “ Taurat diturunkan sekaligus,
karena Nabi yang menerimanya dapat membaca dan menulis, yaitu Nabi Musa a.s.
Adapun al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dan tidak dapat ditulis
sekaligus, karena Nabi yang menerimanya seorang Nabi yang ummi, dalam arti tidak dapat membaca dan menulis. Andalan kebanyakan
orang Arab adalah hafalan. Ini merupakan keistimewaan tersendiri; hafalan.
AlMakki mengatakan turunnya al-Quran secara berangsur-angsur sangat tepat, jika
al-Quran diturunkan tidak berangsur-angsur, maka orang banyak yang lari
meninggalkan Islam, karena banyaknya larangan dan perintah. Dengan berangsur
angsur, maka akan terasa ringan dan tidak begitu memberatkan.
Karena
proses turunnya wahyu adalah masalah pengalaman yang sangat sulit bagi Nabi
sendiri; agar hukum-hukum Allah dapat diterapkan secara bertahap pula; dan agar
lebih mudah dipahami, ringan diaplikasikan, dan gampang dihafalkan oleh
orang-orang Mukmin para pengikut Rasulullah SAW.
Itulah sebabnya, tidaklah
mengherankan apabila Rasul menjadi seorang yang paling mengguasai alQuran. Ia
bisa mengabdikan (menghimpun) al-Quran dalam hati yang mulia. Ia menjadi
tumpuan bagi orang-orang Islam dalam memecahkan masalah yang mereka perlukan sehubung
dengan masalah al-Quran.
Para
sahabat r.a. berlombalomba dalam membaca dan menpelajari al-Quran. Mereka
mencurahkan segala kemampuannya untuk menguasai dan menghafalkan al-Quran.
B. PENULISAN AL-QURAN
PADA MASA NABI SAW
Keistimewaan
yang kedua dari al-Quran Karim juga ialah pengumpulan dan penulisannya dalam
lembaran. Rasulullah SAW.
Mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turunnya
ayat al-Quran, beliau memerintahkan kepada mereka untuk menulisnya dalam rangka
memperkuat catatan dan dokumentasi kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah Azza Wa Jalla , sehingga penulisan
tersebut dapat memudahkan penghafalan dan memperkuat daya ingat.
Nabi SAW
adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, makai a tidak mungkin menulis
bacaan al-Quran yang diterima
Malaikat Jibril. Oleh sebab itu Nabi SAW menunjuk beberapa
sahabat untuk menjadi juru tulis. Persoalan adalah apakah Nabi SAW hanya
membimbing bacaan ataukah
sekaligus mengarahkan penulisan alQuran?. Tidak ada
penjelasan yang bersumber dari Nabi SAW. Karena itu, para ulama berbeda
pendapat. Abu bakar al-Baqilani dan Ibnu Khaldun berpendapat bahwa bentuk
tulisan dalam Mushaf al-Quran merupakan hasil pemikiran para sahabat sesuai
dengan apa yang dibacakan Nabi SAW kepada mereka. Tingkat pengetahuan penulisan
para sahabat berbeda, sehingga bentuk tulisan al-
Quran pun banyak yang menyalahi kaedah penulisan yang
benar.
Untuk itu,
Nabi SAW juga mengarahkan bentuk penulisan alQuran kepada para sahabat. Di
antara beberapa hadis yang memperkuat pendapat kemampuan Nabi SAW dalam menulis
adalah sabda Nabi
SAW kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan, salah seorang juru
tulis Nabi SAW.
C. CARA-
CARA PENULISAN
Adapun
cara mereka menulis al-Quran adalah mengunakan pelepah-pelapah kurma, kepingan
batu, kulit/daun kayu, tulang binatang dan sebagainya. Hal itu karena belum ada
pabrik kertas di kalangan orang Arab. Pada saat itu pabrik kertas hanya
terdapat di Parsi dan Romawi. Itu pun masih sangat kurang dan tidak disebarkan.
Itulah sebabnya, orangorang Arab menulisnya sesuai dengan perlengkapan yang
dimiliki dan dapat dipergunakan untuk menulis.
Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit r.a bahwa ia berkata,”Kami menulis alQuran di hadapan Nabi pada
kulit ternak.” Maksudnya adalah
mengumpulkannya agar sesuai dengan petunjuk Nabi SAW. dan menurut perintah dari
Allah SWT.
Para ulama sepakat bahwa pengumpulan al-Quran adalah
tauqifi (menurut ketentuan) artinya susunannya sebagaimana yang kita lihat
sekarang ini. Telah disebutkan bahwa Jibril a.s bila membawakan sebuah atau
beberapa ayat kepada Nabi, ia mengatakan, “Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah
memerintahkan kepadamu untuk menempatkan pada urutan ke sekian
Rasulullah SAW. berpulang ke
rahmatullah setelah beliau selesai menyampaikan risalah dan
menyampaikan amanat serta memberi petunjuk kepada
umatnya untuk menjalankan agama
yang lurus.
Setelah beliau wafat, kekhilafahan dipegang oleh Abu Bakar Siddiq r.a. Pada masa pemerintahannya,
ia banyak menghadapi malapetaka,
berbagai kesulitan dan problem yang rumit, di antaranya memerangi orangorang
yang murtad (keluar dari agama Islam ) yang ada di kalangan orang Islam serta
memerangi pengikut Musailamah Al-Kadzdzab.
Ketika terjadi peperangan Yamamah, banyak kalangan sahabat yang
hafal al-Quran dan ahli bacanya yang gugur. Jumlahnya lebih dari 70 orang huffaz ternama.
Melihat banyaknya penghafal
al-Quran yang gugur, Umar merasa prihatin lalu beliau menemui Abu Bakar yang
sedang dalam keadaan sedih dan sakit.
Umar bermusyawarah denganya supaya mengumpulkan al-Quran
karena khawatir akan lenyap dengan banyaknya huffaz yang gugur. Pada awalnya,
Abu Bakar merasa ragu, namun setelah dijelaskan oleh Umar tentang nilai-nilai
positifnya, ia menerima usul tersebut. Dan Allah melapangkan Allah dada Abu
Bakar untuk melaksanakan tugas yang mulia tersebut. Ia mengutus Zaid bin Tsabit
dan menyuruh agar segera menangani dan mengumpulkan al-Quran dalam satu
mushaf.
kepada Rasulullah pada malammalam bulan Ramadhan setiap
tahunnya. Abdullah bin Abbas berkata :
”Rasulullah
adalah orang paling pemurah, dan puncak kemurahannya pada bulan Ramadhan ketika
ia ditemui oleh Jibril. Ia ditemui Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan;
Jibril membacakan Quran kepadanya, dan ketika Rasulullah ditemui oleh
Jibril itu ia sangat pemurah sekali.”
1. Jadi,
pulanya al-Quran bukanlah seperti yang kita pegang saat ini, akan tetapi
al-Quran itu adalah kumpulan mushaf-mushaf yang ditulis oleh sahabat atas
Rasulullah
2. Upaya
yang dilakukan Rasulullah untuk menjaga dan memelihara ayat-ayat itu dan
menyampaikannya kepada para sahabat yang kemudian juga menghafalnya sesuai
dengan yang disampaikan Nabi.
3. Pembukuan
al-Quran yang dilakukan oleh Abu Bakar didasari oleh kekhawatiran al-Quran akan
hilang jika tidak dikumpulkan karena telah banyak para Qari’
DAFTAR PUSTAKA
Ali Ash-Shaabuuniy, Muhammad.
2008.
Studi
Ilmu al-Quran , Bandung: Juli.
Amroeni Drajat. 2017. ULUMUL QURAN Pengantar Ilmu-Ilmu Al-Quran , Kencana
Jl. Kebayunan No.1 Tapos-Cimanggis, Depok.
Asy'ari. 2002. Pengantar
Studi al-Quran ,IAIN SUNAN AMPEL
PRESS Surabaya:
2002
Aziz, Moh. Ali. 2018.Mengenal Tuntas AlQuran, IMTIYAZ,
Surabaya.
Manna’ Khalil, al-Qattan. 2016. Studi
IlmuIlmu Quran, Bogor : Literia AntarNusa.
Mudzakir AS. 2002. STUDI ILMU-ILMU QURAN,
Lintera AntarNusa, Surabaya.
Musyafa’ah Sauqiyah. 2011. STUDI
ALQURAN, Surabaya.
Sholeh Shonhaji. 2002. Pengantar STUDI
ISLAM , SUNAN
AMPEL PRESS
Surabaya.
Subandi Bambang. 2011. STUDI HUKUM ISLAM, Surabaya : UINSA
Press, Juli.
Syafaq Hammis. 2011. Pengantar
Studi Islam, Surabaya : UINSA Press, Juli.
Zuhdi Achmad. 2018. Studi Ilmu
al-Quran , Surabaya: UINSA Press.